Minggu, 03 April 2016

SOLUSIO PLASENTA


Solusio plasenta adalah lepasnya plasenta dari dinding rahim bagian dalam sebelum proses persalinan, baik seluruhnya maupun sebagian, dan merupakan komplikasi kehamilan yang serius namun jarang terjadi.
Solusio plasenta bisa membahayakan nyawa ibu dan bayi yang dikandung jika tidak segera ditangani. Hal ini dikarenakan solusio plasenta bisa menyebabkan pendarahan hebat bagi sang ibu, dan bayi yang dikandung bisa kekurangan asupan nutrisi serta oksigen.
ETIOLOGI
Penyebab utama tidak jelas. Terdapat beberapa faktor resiko antara lain:
  • Peningkatan usia dan paritas
  • Preeklampsia
  • Hipertensi kronis
  • KPD preterm
  • Kehamilan kembar
  • Hidramnion
  • Merokok
  • Pencandu alkohol
  • Trombofilia
  • Pengguna cocain
  • Riwayat solusio plasenta
  • Mioma uteri
Faktor pencetus :
  1. Versi luar atau versi dalam
  2. Kecelakaan
  3. Trauma abdomen
  4. Amniotomi ( dekompresi mendadak )
  5. Lilitan talipusat – Tali pusat pendek














Gejala Solusio Plasenta
Usia kehamilan enam bulan ke atas, terutama beberapa pekan sebelum proses persalinan merupakan waktu yang paling sering mengalami solusio plasenta. Di bawah ini adalah beberapa gejala solusio plasenta yang bisa terjadi:
  • Nyeri punggung.
  • Kontraksi berlangsung cepat.
  • Pendarahan pada vagina.
  • Rahim terasa sakit.
  • Nyeri perut.
  • Kurang bergeraknya bayi yang berada dalam kandungan atau tidak seperti biasanya.
Penyebab Solusio Plasenta
Hingga saat ini penyebab pasti terjadinya solusio plasenta belum diketahui, namun ada beberapa hal yang bisa meningkatkan resiko solusio plasenta, yaitu:
  • Wanita yang merokok atau yang menyalahgunakan narkoba.
  • Wanita yang berusia di atas 40 tahun.
  • Wanita yang pernah mengalami solusio plasenta sebelumnya.
  • Wanita yang pernah melahirkan bayi kembar.
  • Wanita yang memiliki tekanan darah tinggi atau hipertensi.
  • Wanita yang memiliki gangguan pembekuan darah.
  • Wanita yang pernah mengalami trauma pada perut, seperti terjatuh atau terkena pukulan.
  • Air ketuban bocor atau pecah terlalu awal.
PENATALAKSANAAN
A.      TINDAKAN GAWAT DARURAT 
Bila keadaan umum pasien menurun secara progresif atau separasi plasenta bertambah luas yang manifestasinya adalah :
·         Perdarahan bertambah banyak
·         Uterus tegang dan atau fundus uteri semakin meninggi
·         Gawat janin
maka hal tersebut menunjukkan keadaan gawat-darurat dan tindakan yang harus segera diambil adalah memasang infus dan mempersiapkan tranfusi.
B.       TERAPI EKSPEKTATIF 
Pada umumnya bila berdasarkan gejala klinis sudah diduga adanya solusio plasenta maka tidak pada tempatnya untuk melakukan satu tindakan ekspektatif.
C.      PERSALINAN PERVAGINAM
Indikasi persalinan pervaginam adalah bila derajat separasi tidak terlampau luas dan atau kondisi ibu dan atau anak baik dan atau persalinan akan segera berakhir.
Setelah diagnosa solusio plasenta ditegakkan maka segera lakukan amniotomi dengan tujuan untuk :
  1. Segera menurunkan tekanan intrauterin untuk menghentikan perdarahan dan mencegah komplikasi lebih lanjut (masuknya thromboplastin kedalam sirkukasi ibu yang menyebabkan DIC)
  2. Merangsang persalinan ( pada janin imature, tindakan ini tak terbukti dapat merangsang persalinan oleh karena amnion yang utuh lebih efektif dalam membuka servik)
Induksi persalinan dengan infuse oksitosin dilakukan bila amniotomi tidak segera diikuti dengan tanda-tanda persalinan.
D.      SEKSIO SESAR 
Indikasi seksio sesar dapat dilihat dari sisi ibu dan anak. Tindakan seksio sesar dipilih bila persalinan diperkirakan tak akan berakhir dalam waktu singkat, misalnya kejadian solusio plasenta ditegakkan pada nulipara dengan dilatasi 3 – 4 cm. Atas indikasi ibu maka janin mati bukan kontraindikasi untuk melakukan tindakan seksio sesar pada kasus solusio plasenta.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar